Apa itu Love Scam? Fenomena Digital yang Dapat Diprediksi dengan Data

|

apa itu love scam

Pada awalnya, love scam terlihat seperti kisah romantis biasanya di dunia digital. Dua orang berinteraksi melalui aplikasi kencan, saling bercanda di chat, berbagi foto, bercerita tentang pekerjaan, dan membangun kedekatan emosional. Semuanya berlangsung wajar, bahkan hangat. Namun beberapa minggu kemudian, cerita ini berubah menjadi permintaan bantuan finansial yang mendesak, entah untuk biaya rumah sakit, tiket pesawat, investasi crypto, atau alasan lain yang tampak meyakinkan.

Fenomena ini belakangan ramai diberitakan media di Indonesia. Dalam satu tahun terakhir, Polri melaporkan peningkatan signifikan kasus penipuan digital dalam kategori romance scam dan investment scam. Sementara AFTECH mencatat bahwa penipuan digital berbasis kedekatan emosional menjadi salah satu keluhan paling sering pada sektor keuangan digital. Di level global, Federal Trade Commission (FTC) mencatat kerugian US$ 1,3 miliar hanya dari kasus romance scam pada 2023. Data dari Asia Tenggara menunjukkan tren serupa, khususnya setelah pandemi saat interaksi digital meningkat drastis.

Namun, di balik angka dan kisah-kisah emosional korban, love scam dapat dikorelasikan dengan problem data dan pattern behavior yang dapat dianalisis. bahkan, dalam beberapa kasus dapat diprediksi menggunakan AI dan Big Data.

Dari Manipulasi Menjadi Pola Data

Love scam biasanya dilakukan dalam tahapan sistematis:

  1. Persona digital dibangun (sering menggunakan profesi prestisius seperti pilot, dokter, tentara, atau investor)
  2. Kepercayaan ditanam melalui komunikasi intens, perhatian, dan konsistensi
  3. Emosi dimaksimalkan hingga korban merasa memiliki relasi yang bermakna
  4. Permintaan finansial muncul dengan alasan darurat atau peluang investasi
  5. Eksploitasi terjadi dan pelaku menghilang

Jika tahapan ini dilihat dari perspektif sosial, ia adalah manipulasi. Tetapi jika dilihat dari perspektif komputasional, ia adalah pattern. Pola dapat mucnul dari:

  1. frekuensi chat
  2. durasi komunikasi digital
  3. emotional trigger
  4. diksi persuasi
  5. profesi fiktif

Pola ini disebut behavioral sequence dan dapat dianalisis menggunakan teknik pattern recognition dan predictive analytics.

Bagaimana AI dan Big Data Membaca Love Scam

Model komputasi untuk membaca pola fraud berbasis emosi dapat membaca apa yang disampaikan pelaku, bagaimana dan kapan. Teknik yang digunakan antara lain:

  • Natural Language Processing (NLP) untuk menganalisis persuasi dan sentimen
  • Clustering untuk kelompok modus penipuan
  • Classification untuk menentukan risiko interaksi
  • Risk scoring untuk memprediksi potensi penipuan
  • Temporal pattern analysis untuk membaca intensitas waktu

Dengan dataset yang cukup besar, AI mampu memetakan love scam sebagai fenomena prediktif. Berbagai kasus love scam yang terjadi menjadikan cara pandang yang berbeda, bukan hanya tentang romansa digital, tetapi dapat dipahami sebagai pola data. Emosi manusia yang tampak abstrak ternyata dapat dipetakan, dianalisis, dan diprediksi melalui ilmu informatika. Dunia digital tidak hanya membutuhkan cinta, tetapi juga kemampuan untuk membaca data. Dan kemampuan tersebut adalah salah satu kompetensi masa depan, untuk generasi pengguna teknologi, maupun mahasiswa yang ingin memahami bagaimana dunia bekerja melalui data dan AI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate